the great depression

Kebijakan proteksionisme Amerika Serikat sejak awal 2018 telah mengingatkan kembali masa The Great Depression yang terjadi pada 1930-an.

The Great Depression adalah era terburuk ekonomi AS dan dunia di tengah revolusi industri. Kala itu, pasar saham sampai tak berkutik selama 10 tahun sejak 1929 sampai 1939.

Konon, periode suram itu terjadi karena kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS). Cuma, beberapa pengamat masih memperdebatkan penyebab awal terjadinya sejarah kelam ekonomi AS dan dunia tersebut.

Melirik pasca perang dunia I pada 1919, perekonomian AS bisa dibilang cukup melaju dengan pesat.

Tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi ditambah rasa optimistis investor melihat prospek ekonomi AS sebagai salah satu pemenang perang menjadi pendorongnya.

Data Consumer Price Index AS periode 1921-1930./ Eh.net

Meskipun begitu, kondisi ekonomi pasca perang tidak langsung menguat. Biaya besar untuk perang pun membuat AS mengalami resesi pada periode 1920.

Dalam waktu singkat, AS bangkit dari resesi pada Juli 1920. Kala itu, kebijakan pemerintah AS adalah meningkatkan pajak penghasilan di atas US$1 juta menjadi 73%.

BACA JUGA : Jurnalis dan Supir Taksi dalam Pergolakan Gwangju

Hasilnya, 70% pendapatan pemerintah AS berasal dari pajak penghasilan tersebut.

Revolusi industri AS pun berjalan lancar seiring dengan tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi.

Daya beli mesin cuci dan alat elektronik lainnya meningkat drastis. Industri otomotif dan maskapai penerbang AS pun lahir pada periode tersebut.

Kondisi itu pun dimanfaatkan oleh pemerintah AS untuk menarik pajak lebih banyak. Pajak perusahaan dinaikkan menjadi 12,5% dibandingkan dengan 10% pada periode sebelumnya.

Gairah Ekonomi Sebelum The Great Depression

Kebijakan pajak tinggi itu mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi AS tembus 42% pada periode 1920-an.

Pembangunan konstruksi baru juga mencatatkan kenaikan dua kali lipat dengan nilai US$10 miliar, sedangkan pengangguran tidak lebih dari 4%.

Rata-rata penghasilan di AS pun naik sebesar 24,08% menjadi US$8.016 per orang dibandingkan dengan US$6.460 per orang pada periode sebelumnya.

Akhirnya, aroma positif ekonomi AS itu menular hingga ke pasar modal.

Pada 1924, harga saham di bursa New York mencatatkan kenaikan 20% dalam setahun. Volume transaksi juga naik 2 kali lipat menjadi 5 juta transaksi per hari.

Penjualan dan penerbitan surat berharga New York Stock Exchange./ Eh.net

Sangking girangnya dengan geliat pasar modal, para pialang pun berinovasi memberikan fasilitas beli saham ‘on margin‘ kepada investor.

Fasilitas beli saham ‘on margin‘ adalah pialang memberikan fasilitas pinjaman untuk investasi saham. Jadi, investor bisa membeli saham lebih banyak dari kemampuan finansial investor tersebut.

Kala itu, pialang AS memberikan fasilitas pinjaman hingga sebesar 80% sampai 90% dari harga saham.

Investor pun cukup menempatkan dana sebesar 10% sampai 20% dari harga saham untuk masuk ke pasar modal.

Inovasi itu pun sangat menggiurkan bagi investor. Soalnya, pasar saham New York sedang ‘on fire.’

Investor dengan modal kecil bisa menjadi jutawan dalam sekejap. Lalu, transaksi pasar modal AS kian menggeliat dengan fasilitas tersebut.