the great deppresion

The Great Depression sempat membuat masyarakat Amerika Serikat tidakpercaya dengan bank. Hal itu sempat membuat sistem perbankan di Negeri PamanSam kacau. 

Kekacauan sistem perbankan Amerika Serikat (AS) bermula dari anjloknyapasar saham AS pada 1929. Kala itu, masyarakat AS sangat khawatir dengan potensi bencana keuangan yang datang. 

Alhasil, tingkat konsumsi maupun investasi mengalami penurunan. Ujung-ujungnya, produksi dan jumlah pekerjaan pun turun.

Produksi industri AS sampai susut sebesar 47%, sedangkan produk domestik bruto riil (PDB) minus 30% dan total pengangguran mencapai 20%. 

Nah, kondisi ekonomi yang memburuk membuat masyarakat mulai tidak percaya dengan bank. Hal itu melahirkan aksi penarikan simpanan yang masif hingga mengancam sistem perbankan.

ketidakpercayaan investor maupun masyarakat AS kepada kondisi ekonomi Negeri Paman Sam saat itu benar-benar berdampak sistemik kepada sistem keuangannya. 

New York Times sempat memberitakan salah satu kisah kepanikan warga AS pada Desember 1930. 

Ada pedagang kecil di Bronx yang berencana menjual saham yang dimilikinya ke bank. Namun, bank menyarankannya untuk tetap menyimpan saham karena instrumen itu salah satu investasi yang bagus.

Namun, ketika pedagang kecil itu meninggalkan bank, dia malah menyebarkan desas-desus kalau bank telah menolak permintaan penjualan sahamnya.

Sistem Perbankan Gagal 

Informasi itu langsung membuat khawatir para deposan, pemilik deposito bank. Alhasil, sekitar 3.500 deposan meminta penarikan dana US$2 juta kepada bank. 

Penarikan dana dari deposan itu membuat likuiditas perbankan AS mengetat. Akhirnya, perbankan mencari segala upaya untuk bisa mendapatkan dana tunai.

BACA JUGA : Roosevelt, Sang Juru Selamat AS dari The Great Depression

Pasalnya, dana bank dari para deposan mayoritas digulirkan lagi dalam bentuk kredit. Namun, pelunasan kredit tidak bisa langsung kembali menjadi uang dalam waktu singkat. 

Akhirnya, bank di AS menjual aset-asetnya dengan harga yang lebih murah demi mendapatkan uang tunai. 

Grafik jumlah bank gagal di AS pada periode 1921-2015/eanfar.org

Sepanjang periode puncak The Great Depression itu, ada 1.300 bank gagal di AS karena kesulitan likuiditas. 

Salah satunya, Bank of the United States New York yang ambruk pada Desember 1931. Bank itu gagal dengan memiliki total simpanan hingga US$200 juta. 

Bank of the United States New York menjadi bank gagal tunggal terbesar dalam sejarah AS.

Obat Gagal Sistem Bank 

Pada 1933, Franklin D. Roosevelt menjadi presiden ke-32 As menggantikan Hebert Hoover.

Roosevelt berjanji akan mengakhiri depresi besar dalam kampanyenya. Ketika resmi dilantik, dia pun langsung bergerak cepat membenahi sistem perbankan.

Setelah menjabat, Roosevelt langsung mengumumkan kalau bank di AS akantutup atau tidak beroperasi untuk sementara. Dia menutup bank di AS itu sekitar 10 hari. 

Di tengah penutupan bank, Roosevelt pun meminta dalam kongres untuk mengeluarkan dana bantuan kepada lembaga keuangan AS yang sakit. 

Yakinkan Masyarakat

Setelah mendapatkan lampu hijau dari kongres, Roosevelt langsung memberikan pidato yang disebar lewat radio.

Roosevelt membahas tentang krisis yang melanda sistem perbankan AS. Dia juga menjelaskan keputusannya menutup sementara bank di AS. 

“Kami tidak ingin sejarah buruk beberapa tahun terakhir kembali terulang. Kami tidak ingin ada bank yang gagal,” ujarnya.

Dia pun mencoba menyakinkan masyarakat AS kalau menyimpan uang yang paling aman adalah di bank. 

“Ketika, mereka [bank] kembali di bank, kalian harus percaya uang yang tersimpan bisa dilihat kapan saja. Saya bisa pastikan, menyimpan uang di bank lebih aman ketimbang di bawah kasur,” ujarnya. 

Kata-kata Roosevelt itu memberikan dampak yang cukup besar. Secara perlahan, masyarakat mulai mempercayai kembali sistem bank. 

Ketika bank kembali dibuka, beberapa deposan langsung muncul untuk menyetorkan dana atau emasnya. 

Kegagalan sistem perbankan AS pun akhirnya bisa diselesaikan.