startup pertama di BEI

Startup pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia bukanlah Go-jek, Tokopedia, Bukalapak, maupun Traveloka. Sosok perusahaan rintisan pertama yang melantai di bursa adalah PT Kioson Komersial Indonesia Tbk. Apakah kamu baru pertama kali dengar namanya?

Kioson adalah perusahaan rintisan yang bergerak di bidang perdagangan daring atau online dengan skema o2o [online to offline].

Jasin Halim besama Roby Tan dan Viperi Limiardi menjadi pendiri Kioson, sedangkan aplikasi perseroan pertama kali diluncurkan pada 8 Agustus 2015.

Jika melihat dari isi aplikasi Kioson, startup pertama yang melantai di bursa itu menjalankan bisnis dengan menawarkan kerja sama kepada masyarakat sebagai mitra. Para mitra bisa menjajakan produk pulsa, tiket transportasi, sampai beli ponsel pintar lewat aplikasi tersebut.

Di luar semua itu, peran Kioson lainnya adalah menyediakan pembayaran belanja daring lewat aplikasinya. Jadi, belanja daring di rumah, bayarnya bisa lewat tetangga yang menjadi mitra Kioson.

Sejauh ini, Kioson baru bisa membayar transaksi daring di Tokopedia dan Asani.

BACA JUGA : Persaingan Startup Ride Sharing di Asean, Go-jek atau Grab yang Bakal Kuasai Pasar?

Mitra Kioson akan mendapatkan komisi dan bonus dari setiap transaksi yang terjadi.Sebenarnya, Kioson menjalankan bisnis mirip payment point online bank (PPOB) dan agen Laku Pandai.

Pada aplikasi itu, Kioson juga menawarkan produk premium untuk menjadi agen Laku Pandai dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. alias BNI.

Selain itu, pengguna premium juga bisa menjadi agen PT POS Indonesia.

Fitur lainnya, Kioson juga menjadi teknologi finansial untuk pinjam meminjam.

Syarat untuk bisa menikmati produk premium itu, calon mitra harus melakukan know your customer (KYC) alias meminta data calon mitra.

Apakah Saham Kioson Punya Prospek Cerah?

Startup pertama di BEI itu menawarkan 150 juta sahamnya ke publik dengan harga penawaran Rp300 per saham pada 25 September 2017. Sampai perdagangan Jumat (22/02/2019), harga saham KIOS berada di level Rp1.510 per saham.

Jika dilihat, dalam 2 tahun di bursa, harga saham perusahaan rintisan itu sudah melejit lima kali lipatnya. Namun, apakah saham itu punya prospek yang bagus ke depannya?

startup pertama di BEI
sumber : Bloomberg

Secara historis, harga saham KIOS mulai melejit sejak melantai di Bursa. Hanya dalam beberapa minggu, harga saham Kioson tembus Rp3.000-an.

Level tertinggi saham Kioson adalah Rp3.530 per saham pada Agustus 2018. Setelah itu, harga saham perseroan cenderung turun hingga setengahnya menjadi sekitar Rp1.500 per saham.

Jika melihat price to earning ratio (PER) Kioson pun sudah sangat tinggi sekali yakni, 336,43 kali versi Google dan
142,32 kali versi
Bloomberg.

Artinya, harga saham KIOS ini sudah cukup mahal dibandingkan dengan fundamental kinerjanya.

Dari sisi Price to Book Value ratio (PBV), harga saham Kioson juga sudah terlalu mahal.

Sampai kuartal ketiga tahun lalu Kioson memiliki ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp111,86 miliar. Jumlah lembar saham beredar Kioson sebanyak 717,21 juta.

Jadi, harga buku Kioson senilai Rp155,96 per saham. Kalau harga saham terakhir di level Rp1.510 per saham, berarti rasio PBV Kioson adalah 9,68 kali.

Fondasi Bisnis Startup Pertama yang Melantai di Bursa

Skema transaksi jual-beli pulsa maupun PPOB secara perlahan akan tergusur dengan makin maraknya digital banking sampai keberadaan dompet digital. Lalu, bagaimana nasib Kioson?

Secara jangka panjang, bisnis jual beli pulsa dan transaksi pembayarannya ini akan sulit bertahan jika tidak memiliki inovasi baru.

Namun, emiten berkode KIOS ini memiliki dua pendiri yang terhubung dengan perusahaan distribusi penjual pulsa loh.

Roby Tan adalah salah satu pendiri PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk. yang memiliki lini bisnis perusahaan distribusi pulsa dari Telkomsel.

Bukan hanya itu saja, emiten berkode MKNT itu juga sebagai distributor beberapa model ponsel pintar seperti, Vivo, Oppo, Samsung, dan sebagainya.

Lalu Viperi Limiardi tercatat sebagai komisaris di PT Artav Mobile Indonesia. Perusahaan yang kini memegang mayoritas saham Kioson itu bergerak di bidang distribusi pulsa dari PT XL Axiata Tbk.

Dengan begitu, pasokan produk yang dijual akan terjaga sehingga konsumen bisa lebih loyal. Apalagi, mereka juga memberikan fasilitas tambahan seperti, pinjaman daring.

Namun, suka tidak suka, bisnis mereka memang memiliki banyak saingan yang sangat kuat, tetapi dalam jangka menengah bisnis skema Kioson masih dibutuhkan masyarakat Indonesia.

Soalnya, masyarakat di luar kota besar masih kurang memahami transaksi digital. Literasi keuangan di Indonesia juga masih rendah, dan jaringan internet juga belum merata.

Ketiga hal itu bisa menjadi peluang Kioson untuk mengembangkan pasarnya.

Perubahan Pemegang Saham Kioson Jelang Melantai di Bursa

Kioson menjadi emiten perusahaan rintisan pertama di Bursa Efek Indonesia (BEI). KIOS resmi melantai di bursa pada 2017 setelah melepas 23,07% sahamnya ke publik.

Sebelum melantai di bursa, komposisi pemegang saham Kioson mengalami perubahan. Roby dan Viperi kompak menjual masing-masing 255 lembar saham kepada PT Sinar Mitra Investama dan PT Seluler Makmur Sejahtera.

Setelah diusut, Sosok dibalik Sinar Mitra Investama adalah PT NTI Global Indonesia. Nah, Viperi Limiardi adalah salah satu direksi di perusahaann tersebut.

Dengan kata lain, Roby menjual 255 lembar saham Kioson kepada perusahaan yang terafiliasi dengan Viperi.

Lalu, apakah di balik Seluler Makmur Sejahtera ada sosok Roby? untuk hal itu, Channelekonomi.com masih belum menemukan datanya.

Jika ada hubungan dengan Roby, transaksi saham kedua pendiri itu dilakukan untuk mengubah kepemilikan dari individu menjadi perseroan terbatas.

Dengan transaksi itu, komposisi pemegang saham Kioson pada 2016 antara lain, Sinar Mitra Investama dan Sinar Mitra Investama masing-masing memegang 48% saham Kioson, sedangkan Viper dan Roby masing-masing memegang 2%.

Setahun kemudian, Artav Mobile Indonesia masuk menjadi salah satu pemegang saham Kioson.

Nah, Viper juga memiliki afiliasi dengan perusahaan tersebut. Dia adalah salah satu komisaris di perusahaan distributor pulsa XL.

Masuknya Artav telah mengubah komposisi modal dasar dan disetor Kioson. Modal dasar Kioson bertambah 300% menjadi Rp200 miliar dibandingkan dengan Rp50 miliar pada periode sebelumnya.

Lalu, modal disetor bertambah 33,33% menjadi Rp50 miliar. Jumlah saham Kioson pun naik 5.100% menjadi 650 juta lembar dibandingkan dengan sebelumnya.

Artav menjadi pemegang saham mayoritas setelah mengonversi piutang senilai Rp37,5 miliar.

Komposisi pemegang saham Kioson pun berubah menjadi Artav Mobile Indonesia memiliki 53,89%, Sinar Mitra Investama 9,62%, Seluler Makmur Sejahtera 9,62%, dan publik 26,87%.

Sampai kuartal III/2018, komposisi saham KIOS kembali berubah menjadi 48,48% miliki Artav, sedangkan 51,16% milik publik.

Ini Dua Anak Usaha Startup Pertama di BEI

Mulai 2017, Startup pertama yang melantai di BEI itu mulai agresif mengembangkan usahanya. Perseroan mengakuisisi PT Narindo Solusi Komunikasi senilai Rp34,09 miliar.

Transaksi akuisisi itu sepenuhnya menggunakan kas pribadi perseroan.

Narindo adalah perusahaan di sektor perdagangan besar untuk peralatan telekomunikasi, komputer dan suku cadangnya, serta penyedia jasa voucher isi ulang ponsel.

Bisa dibilang, akuisisi itu makin memperkuat lini bisnis utama Kioson.

Lalu, Kioson mendirikan anak usaha bernama PT Kioson Fintech Indonesia pada 19 April 2018. Anak usaha yang satu ini mungkin bakal jadi masa depan perseroan.

Historis Kinerja Startup Pertama di BEI

Kinerja Kioson masih sulit untuk dilihat secara jangka panjang. Jika dilihat dari laporan keuangan 2016, perkembangan Kioson bisa dibilang sangat pesat.

Dari segi pendapatan, Kioson mencatatkan kenaikan 4.306% pada 2017 menjadi Rp1,13 triliun dibandingkan dengan Rp25,64 miliar pada 2016.

Kenaikan pendapatan Kioson terjadi pada kuartal IV/2017 atau ketika melantai di BEI. Pasalnya, sampai kuartal III/2017, pendapatan Kioson baru Rp73,58 miliar.

Kenaikan pendapatan itu bisa jadi ada hubungannya dengan masuknya pemegang saham baru yakni, Artav. Namun, Channelekonomi.com belum menemukan fakta lain pendongkrak kinerja Kioson tersebut.

Sampai kuartal ketiga tahun lalu, pendapatan Kioson sudah tembus Rp1,92 triliun.

Namun, Kioson masih tertatih-tatih dari segi laba bersih.

Pada 2017, Kioson memulai bottom line positif senilai Rp2,93 miliar dibandingkan rugi bersih Rp11,29 miliar pada 2016.

Nilai laba bersihnya sudah makin tinggi pada kuartal ketiga tahun lalu menjadi senilai Rp5,95 miliar.

Dari Mana Pendapatan Utama Kioson?

Lonjakan kinerja itu didukung oleh seluruh lini usahanya yakni, produk digital, e-commerce, PPOB, dan lainnya.

Pendapatan terbesar Kioson berasal dari produk digital yang berupa jual beli pulsa pra bayar dan voucher Google Play. Kontribusi produk digital sampai kuartal ketiga 2018 mencapai 99,55% dari pendapatan atau senilai Rp1,95 triliun.

Lalu, pendapatan terbesar kedua berasal dari transaksi e-commerce sebesar 0,37% atau senilai Rp7,26 miliar. PPOB menyumbang pendapatan 0,07% atau senilai Rp1,44 miliar, sedangkan pendapatan lainnya berkontribusi 0,004% atau senilai Rp94,42 juta.

Seberapa Besar Utang Startup Pertama di BEI?

Sampai kuartal ketiga 2018, Kioson memiliki plafon kredit hingga Rp140 miliar yang berasal dari unit usaha syariah PT Bank Sinarmas Tbk. Utang itu memiliki tenor 12 bulan dengan tingkat bagi hasil 15% per tahun.

Fasilitas pinjaman syariah itu dijamin oleh persediaan barang dagangan yang senilai 125% dari plafon kredit.

Selain dari utang bank, liabilitas Kioson berasal dari utang usaha dan beban yang harus di bayar.

Sampai kuartal ketiga tahun lalu, jumlah utang usaha senilai Rp8,76 miliar, sedangkan beban yang masih harus dibayar Rp32,85 juta.

Nah, setelah melihat berbagai hal tentang Kioson, apakah menurutmu emiten perusahaan rintisan itu layak untuk dikoleksi?