emiten pakan ternak

Emiten pakan ternak menjadi salah satu sektor yang diprediksi bisa mencatatkan kenaikan penjualan sepanjang Ramadan. Namun, harga saham emiten sektor itu malah rontok di awal puasa, hanya PT Sierad Produce Tbk. yang mencatatkan kenaikan hingga 32% dalam sepekan terakhir. Ada apa dengan emiten berkode SIPD itu?

Ada empat emiten di sektor pakan ternak yakni, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk., PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk., PT Malindo Feedmill Tbk., dan PT Sierad Produce Tbk.

Secara year to date, harga saham Charoen Pokphand sudah turun 28,63%, Japfa 32,19%, dan Malindo 16,66%. Namun, Sierad justru mencatatkan kenaikan 6,45%.

Hal itu juga tercermin dalam pergerakan harga saham sepekan terakhir. Sierad mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 32%. Charoen Pokphand masih mencatatkan kenaikan tipis 0,2%, sedangkan Japfa dan Malindo masing-masing turun 3,57% dan 2,48%.

Mencari Sentimen Positif Sierad dan Emiten Pakan Ternak Lainnya

Apa yang menyebabkan harga saham Sierad melonjak sendirian di tengah tren memerah dari sektor pakan ternak?

Salah satu sentimen positifnya adalah, Sierad mencatatkan kinerja kuartal I/2019 yang positif. SIPD mampu membalikkan kondisi rugi bersih Rp8,2 miliar menjadi laba Rp13,25 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini.

Sebenarnya, kinerja anak usaha Gunung Sewu itu sudah positif sejak tutup buku 2018. Sierad sudah kembali mendulang laba senilai Rp25,93 miliar dibandingkan dengan rugi Rp354,92 miliar pada 2017.

BACA JUGA : Garuda Indonesia, Ada Apa Denganmu?

Pada tahun lalu, Sierad mampu mendulang untung setelah 3 dari 5 lini usahanya kembali menorehkan laba.

Pada lini usaha pakan ternak, Sierad mampu mendulang laba usaha Rp38,84 miliar dari sebelumnya rugi Rp22,84 miliar.

Begitu juga lini usaha anak ayam sehari yang mendulang laba Rp79,93 miliar dari sebelumnya rugi Rp27,17 miliar.

Terakhir, lini usaha kemitraan yang mencatatkan keuntungan Rp39,82 miliar dibandingkan dengan rugi Rp19,88 miliar pada 2017.

Tren positif itu juga berlanjut pada kuartal I/2019, tiga dari lini usaha Sierad mencatatkan kenaikan.

Pakan ternak mencatatkan pertumbuhan sebesar 65,61% menjadi Rp17,13 miliar, sedangkan usaha anak ayam sehari mampu untung Rp21,91 miliar dibandingkan dengan rugi Rp2,17 miliar pada kuartal I/2018.

Lalu, lini usaha lain-lain perseroan juga bangkit mendulang untung Rp1,82 miliar dibandingkan dengan rugi Rp1,27 miliar pada periode sama tahun lalu.

Sayangnya, lini usaha kemitraan yang sempat bangkit sepanjang 2018 memulai awal tahun ini dengan buruk. Lini usaha kemitraan perseroan merosot 90,25% menjadi Rp713 juta dibandingkan dengan Rp7,31 miliar.

Malindo Untung, tapi Harga Saham Buntung

Selain Sierad, Malindo juga mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang kuartal pertama 2019. Lalu, mengapa harga saham emiten berkode MAIN itu justru juga memerah?

Malindo mencatatkan kenaikan laba bersih kuartal I/2019 sebesar 51,47% menjadi Rp106,4 miliar dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Penyokong kinerja laba bersih MAIN itu adalah lini usaha pakan ternak yang mencatatkan pertumbuhan laba usaha 51,47% menjadi Rp106,4 miliar. Selain itu, lini usaha anak ayam sehari juga tumbuh signifikan sebesar 156% menjadi Rp78,29 miliar.

Sayangnya, lini usaha peternakan dan makanan olahan perseroan justru jeblok. Lini usaha peternakan MAIN malah rugi Rp20,67 miliar dibandingkan laba Rp18,63 miliar pada kuartal I/2018.

Lalu, rugi makanan olahan makin tinggi menjadi Rp7,98 miliar.

Kinerja 2018 MAIN bisa dibilang juga kurang ciamik. Laba bersih perseroan tahun lalu turun 84,89% menjadi Rp42,94 miliar dibandingkan dengan Rp284,24 miliar pada 2017.

Tekanan kinerja Malindo pada tahun lalu disebabkan 3 lini usaha dari total 4 lini usaha perseroan yakni, pakan ternak, anak ayam sehari, dan makanan olahan.

Apa yang Menyebabkan Kinerja Charoen dan Japfa Lesu Darah

Sementara itu, dua raksasa pakan ternak Indonesia Charoen Pokphand dan Japfa Comfeed malah mencatatkan kinerja yang buruk pada tiga bulan pertama tahun ini.

Charoen Pokphand mencatat penurunan laba bersih sebesar 18,09% menjadi Rp812,27 miliar dibandingkan dengan Rp991,72 miliar pada kuartal I/2018.

Penekan kinerja emiten berkode CPIN itu berasal dari pakan ternak, ayam broiler, dan lain-lain. Sisanya, bisnis anak ayam sehari dan ayam olahan masih mendulang pertumbuhan laba usaha sebesar masing-masing 152,48% sampai 11,19%.

Hampir senada dengan CPIN, Japfa juga mencatat penurunan laba bersih sebesar 28,3% menjadi Rp310,74 miliar dibandingkan dengan Rp433,39 miliar pada periode sama tahun lalu.

Penyebabnya, penurunan laba usaha pada pakan ternak dan rugi usaha pada peternakan dan produk konsumer. Padahal, sektor anak ayam sehari lagi bagus-bagusnya setelah tumbuh 132,43% menjadi Rp405,49 miliar.

Lalu, lini usaha perairan perseroan juga mendulang laba usaha Rp30,93 miliar, sedangkan lini usaha perdagangan tumbuh 16,01% menjadi Rp43,98 miliar.

Mencari Prospek Gain dari Saham Emiten Pakan Ternak

Sierad memang menjadi emiten pakan ternak yang harga sahamnya sedang melejit sendirian di tengah pesaingnya memerah. Apa ini berarti saatnya beli Sierad?

Jika dilihat secara year on year, harga tertinggi SIPD berada di level Rp1.210. Posisi penutupan perdagangan Jumat (10/05/2019) seolah membawa SIPD ke level setahun silam di kisaran Rp900-an.

Peluang kenaikan harga saham Sierad sangat tipis ke depannya. Apalagi, saham Sierad kurang likuid di pasar.

emiten pakan ternak SIPD

Jika masuk di tengah harga tinggi, bakal sulit untuk keluar alias ‘nyangkut.’

Dikutip dari data Stockbit, pada perdagangan Jumat (10/05/2019) tercatat ada 13.544 lot yang masuk ke dalam order jual dengan menawarkan harga berkisar Rp990 – Rp1.150.

Lalu, order beli hanya sebanyak 134 lot dengan rentang harga Rp730 sampai Rp900.

Artinya, setelah harga memuncak, order jual jauh lebih banyak ketimbang order beli. Alhasil, potensi nyangkut akan semakin besar.

emiten pakan ternak CPIN

Adapun, jika mengacu price to earning ratio (PER), harga saham Charoen Pokphand selaku pemimpin pasar pakan ternak cenderung masih mahal. CPIN memiliki PER sebesar 18,61 kali, sedangkan Japfa dan Malindo memiliki PER jauh di bawah itu yakni, 8,46 kali dan 8,4 kali.

Prospek Japfa dan Malindo

Dari sisi kinerja laba bersih lima tahun terakhir, JPFA mencatatkan tren pertumbuhan yang signifikan. Pelemahan rupiah yang terjadi pada 2018 seolah tidak menggentarkan kinerja perseroan.

Padahal, sektor pakan ternak membutuhkan impor kedelai atau jagung sehingga membuat bisnisnya kerap terpengaruh dengan kurs rupiah.

Pada 2014, laba bersih JPFA baru senilai Rp384,84 miliar, tetapi empat tahun kemudian sudah berkembang menjadi Rp2,25 triliun.

emiten pakan ternak JPFA

Harga saham JPFA sudah turun sebesar 6,6% dalam 12 bulan terakhir. Bahkan, harga saat ini sudah berada di level terendah setahun terakhir.

Secara psikologis, harga saham JPFA ada peluang naik jika tidak ada sentimen negatif dari lini usahanya seperti, kebijakan yang terkait unggas atau pakan ternak.

Posisi harga saham tertinggi Japfa dalam setahun terakhir adalah Rp3.100 per saham pada akhir Januari 2019. Setelah lonjakan itu, harga saham JPFA cenderung turun.

Tantangan Malindo Kelola Bisnis Makanan Olahan

Malindo bisa dibilang juga mencatatkan kinerja yang cukup bagus dalam lima tahun terakhir. MAIN mampu membalikkan posisi rugi Rp84,77 miliar pada 2014 menjadi Rp42,94 miliar pada 2018.

Sayangnya, pasca laba bersih MAIN melonjak tembus Rp290,23 miliar pada 2016. Perseroan terus mencatatkan penurunan laba bersih hingga menjadi Rp42,94 miliar pada 2018.

Emiten pakan ternak MAIN

Namun, jika melihat pencapaian kuartal pertama tahun ini bisa tembus Rp91,32 miliar, secara matematika laba bersih emiten pakan ternak itu bisa tembus di atas 2018.

Hal ini bisa menjadi sentimen positif untuk menggerakkan harga sahamnya bangkit dari level keterpurukan saat ini.

Belum lagi, kalau Malindo bisa mengoptimalkan bisnis makanan olahannya yang dijalankan sekitar empat tahun terakhir. Seharusnya, perseroan bisa mendulang margin keuntungan yang bagus pada sektor itu.

Namun, sampai saat ini, Malindo masih mencatatkan rugi usaha di sektor tersebut. Kalau, tahun ini mereka bisa mendulang secercah laba usaha pada sektor itu, bukan tidak mungkin kinerja 2019 bisa terdongkrak.

Apalagi, PER Malindo bisa dibilang paling rendah di antara emiten sektor serupa lainnya.

Nah, apakah kamu siap menjajal investasi saham ke sektor pakan ternak?