keuntungan investasi saham

Keuntungan investasi saham bukan sekedar hasil dari selisih harga jual dan beli saja, tetapi juga bisa mendapatkan dividen setiap tahunnya. Nah, kali ini, kami akan membahas tentang perbandingan keuntungan investasi saham dengan instrumen lainnya seperti, deposito sampai obligasi ritel pemerintah.

Dividen adalah pembagian hasil laba bersih emiten selama setahun terakhir kepada para pemegang saham.

Selain itu, ada juga dividen interim yakni, bagi hasil keuntungan sebelum emiten membukukan keuntungan tahunan.

Emiten adalah perusahaan yang sudah melantai di bursa efek alias go public. Salah satu ciri-ciri emiten di Indonesia adalah nama perusahaannya ada embel-embel Tbk alias terbuka

pengertian emiten

Nah, apakah emiten yang membagikan dividen berarti prospeknya cerah?

Secara umum, emiten yang rajin membagikan dividen berarti memiliki kinerja yang bagus, tetapi bukan berarti prospeknya bakal cerah untuk jangka panjang. Kamu harus lihat juga model bisnis dan inovasi emiten untuk bertahan di tengah tantangan perkembangan pasar dan teknologi.

Selain itu, emiten yang membagikan dividen tidak teratur atau tiba-tiba dengan nilai besar cukup dicurigai. Ada beberapa emiten yang membagikan dividen dari hasil jual aset, ini yang cukup berbahaya.

Total Keuntungan Investasi Saham, Dividen + Capital Gain Harga Saham

Nah, Channelekonomi.com telah menghimpun emiten yang membagikan dividen total paling besar sepanjang 2018 adalah, PT Indo Tambangraya Megah Tbk.

Emiten berkode ITMG itu membagikan total dividen Rp3.260 per saham sepanjang tahun lalu. Jumlah dividen itu terdiri dari dividen tunai Rp1.840 per saham dan dividen interim tunai Rp1.420 per saham.

Kami akan simulasikan keuntungan investasi saham ITMG sejak awal 2018 sampai saat ini.

Harga saham ITMG pada 5 Januari 2018 senilai Rp21.075 per saham.

Pada simulasi ini, kamu akan membeli sebanyak 4 lot atau 400 saham ITMG. Berarti, uang yang dikeluarkan adalah senilai Rp8,43 juta.

Nah, bagaimana total keuntungannya saat ini?

Dari sisi dividen, kamu medapatkan keuntungan senilai Rp1,3 juta.

Nilai itu terdiri dari dividen tahunan Rp736.000 dan dividen interim Rp568.000.

keuntungan investasi saham ITMG

Lalu, jika kamu ingin menjualnya pada perdagangan Selasa (5/3), harga saham ITMG berada pada level Rp22.400 per saham. Total nilai uang yang kamu dapatkan senilai Rp8,96 juta.

Dari harga jual dan beli, kamu sudah mendapatkan keuntungan Rp530.000. Jadi, total keuntungan senilai Rp1,83 juta.

Total pertumbuhan keuntungan kepemilikan saham ITMG selama setahun sebesar 21,75%. Nilainya lebih besar dari deposito atau obligasi negara ritel kan?

Keuntungan Investasi di Deposito dan Obligasi Ritel Pemerintah

Seberapa besar sih selisih keuntungannya? sekarang kamu akan lihat simulasi jika uang Rp8,43 juta disimpan di deposito atau investasi obligasi ritel negara.

Rata-rata bunga deposito di bank besar sepanjang tahun lalu sekitar 5,5% per tahun. Jika kamu menyimpan uang Rp8,43 juta, berarti total keuntunganmu senilai Rp370.920 dalam setahun.

BACA JUGA : Seberapa Besar Keuntungan Jual Sukuk Ritel di Pasar Sekunder?

Kemudian, jika menyimpan di obligasi ritel negara seperti, Sukuk Ritel seri terbaru SR-011. Kamu diberikan imbal hasil sebesar 8,05% per tahun selama 3 tahun.

Nah, keuntungan bersih yang kamu dapatkan dari investasi di Sukuk Ritel seri itu selama setahun senilai Rp576.823.

Adu Risiko Investasi Saham, Deposito, dan Obligasi Ritel Pemerintah

Lalu, kenapa masih ada yang pilih deposito atau obligasi ritel pemerintah?

Salah satu perbedaan yang harus menjadi perhatian kamu sebelum memilih instrumen investasi adalah risiko.

Saham memang memberikan potensi keuntungan yang jauh lebih besar, tetapi risikonya juga tinggi.

Misalnya, ITMG yang memiliki lini bisnis batu bara, tiba-tiba harga komoditas itu anjlok lagi ke level US$40 per ton. Nasib kinerja dan harga saham ITMG bisa saja juga anjlok.

Alhasil, jangankan mendapatkan dividen, mau jual sahamnya saja bisa jadi berada di posisi rugi.

Nah, berbicara risiko, deposito dan obligasi ritel negara lebih menguntungkan. Kedua instrumen itu memiliki risiko yang ‘nyaris’ 0%.

Dana di deposito bakal dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Jadi, ketika bank mengalami kebangkrutan, uangmu akan tetap aman jika nilai simpanan dan imbal hasil sesuai ketentuan LPS.

Potensi imbal hasil menjadi minus pun hampir tidak mungkin. Hal itu bisa terjadi jika bank sentral menerapkan kebijakan suku bunga negatif.

Lalu, obligasi ritel pemerintah seperti, ORI, Saving Bond Ritel (SBR), Sukuk Tabungan, dan Sukuk Ritel, memiliki risiko yang kecil.

Semua dana yang dipinjam akan dijamin oleh pemerintah. Risiko terbesarnya adalah ketika negara mengalami kebangkrutan.

Namun, proses sebuah negara hingga mengalami kebangkrutan akan cukup lama. Jadi, risiko obligasi ritel pemerintah masih dianggap kecil.

Setelah membaca penjelasan itu semua, kamu masih tertarik investasi di saham? atau lebih memilih konservatif saja?