PT Garuda Indonesia Tbk. dan PT Sriwijaya Air sempat menjadi perbincangan hangat setelah kedua perusahaan penerbangan itu melakukan kerjasama operasional.

Bahkan, Garuda Indonesia disebut berpotensi mengakuisisi Sriwijaya Air.

Sebenarnya, apa sih kerjasama operasional (KSO) atau joint operation itu?

Secara definitif, kerja sama operasional adalah dua perusahaan atau lebih melakukan kerjasama operasional untuk menyelesaikan suatu proyek.

Bentuk kerjasama operasional bisa menggunakan salah satu badan usaha yang ditentukan atau membentuk badan usaha baru atau perusahaan patungan.

Nah, pada kasus dua maskapai penerbangan ini, kerjasama operasional dilakukan dengan tujuan membantu penyelesaian kewajiban Sriwijaya Air kepada Garuda Indonesia.

Dengan KSO itu, pengelolaan seluruh operasional dan finansial Sriwijaya Air akan berada di bawah Garuda Indonesia Grup.

Mengutip dari laporan keuangan Garuda Indonesia kuartal III/2018, Sriwijaya Air memiliki utang non jasa penerbangan kepada Garuda Indonesia senilai US$9,33 juta.

Utang itu digunakan Sriwijaya Air untuk pengerjaan overhaul atau pemeriksaan secara teliti untuk mendeteksi masalah pada 10 engine CFM56-3.

Sriwijaya Air melakukan perjanjian jangka panjang untuk pemeliharaan dan perbaikan pesawat ke GMF Aero Asia.

Tenor utang itu adalah 36 bulan dan memiliki bunga 0,1% per hari dari jumlah yang belum dibayarkan.

Jumlah utang yang bakal jatuh tempo dalam setahun senilai US$4,32 juta.

Lalu, Sriwijaya Air juga memiliki kewajiban anjak piutang kepada maskapai pelat merah itu melalui PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. senilai US$14,98 juta.

Garuda Indonesia Bantu Sriwijaya Air yang Kesulitan Keuangan

Pihak Garuda Indonesia menyebutkan, keputusan pengambilalihan operasional Sriwijaya Air melalui KSO karena kondisi finansial Sriwijaya sedang tidak baik.

Emiten berkode GIAA menilai Sriwijaya Air itu salah satu maskapai penerbangan yang memiliki rekam jejak yang baik. Terutama, dari sisi keselamatan.

Jadi, maskapai pelat merah itu menilai perlu menyelamatkan Sriwijaya Air lewat skema KSO.

Nantinya, margin hasil KSO itu akan disisihkan untuk membayar kewajiban Sriwijaya Air kepada GIAA. Dengan skema KSO itu, Sriwijaya Air bisa membayar kewajiban dengan lancar.

Pihak Sriwijaya Air pun mengakui kondisi finansial sedang kurang baik. Namun, hal itu masih dalam tahap normal sebuah perusahaan yang keuangannya mengalami naik dan turun.

Selain itu, depresiasi rupiah terhadap dolar AS juga menjadi salah satu penyebab industri penerbangan tertekan.

Kita nantikan saja, apakah Sriwijaya bisa memperbaiki kondisi keuangannya sekaligus melunasi kewajibannya kepada GIAA dengan KSO ini?