deposito bank

Deposito bank dianggap sebagai instrumen investasi paling konservatif. Namun, peran deposito sangat besar, terutama jika kamu ingin memulai investasi pada instrumen yang lebih berisiko, ini penjelasannya.

Banyak yang menyebut deposito bukanlah instrumen investasi melainkan sekedar tempat menabung. Namun, imbal hasil produk bank itu bisa dibilang cukup bagus jika dibandingkan dengan tingkat risikonya.

Karakteristik deposito adalah memberikan tingkat bunga tertentu kepada nasabah. Syaratnya, nasabah harus menyimpan uangnya dalam kurun waktu tertentu.

Rata-rata bunga deposito perbankan Indonesia saat ini sekitar 6%.

Dikutip dari perkembangan uang beredar Bank Indonesia, rata-rata bunga deposito bank sampai Desember 2018 berkisar 6,51% sampai 7,21%.

Namun, imbal hasil dari deposito itu dikenakan pajak 20%. Jadi, ketika kamu mencairkan dana deposito, total hasil dari bunga akan dikurangi 20%nya.

Risiko Deposito Bank ‘Nyaris’ Tidak Ada

Deposito bisa dibilang ‘nyaris’ tidak ada risiko. Kecuali, tiba-tiba bank sentral menerapkan kebijakan suku bunga negatif.

Jika suku bunga negatif, berarti bunga deposito bisa 0% sampai minus.

Soalnya, dana nasabah yang disimpan di bank, termasuk deposito, dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Namun, ada syaratnya, jumlah dana yang dijamin harus sesuai dengan ketentuan LPS dari segi nilai maupun tingkat bunga bank yang diberikan.

Untuk tingkat penjaminan, LPS akan menjamin dana bunga deposito rupiah sampai 7%, valas sampai 2,25%, dan bunga deposito bank perkreditan rakyat (BPR) sebesar 9,5%.

Lalu, nilai dana simpanan yang dijamin tidak boleh lebih dari Rp2 miliar.

Namun, kalau kamu menyimpan uang di deposito dengan tingkat bunga dan dana melebihi angka jaminan LPS, uangmu tetap aman sebatas nilai yang ditentukan LPS.

Adapun, dana sisanya sudah tidak ditanggung oleh LPS. Berarti, kalau ada apa-apa dengan banknya atau sistem keuangan Indonesia, kamu tidak bisa berharap sisanya juga kembali.

Kekurangan Deposito

Selain soal pajak 20%, beberapa kekurangan deposito adalah kamu tidak bisa menambah dana secara otomatis.

Jadi, kalau kamu mau menambah dana di deposito, langkah yang harus dilakukan adalah mencairkannya terlebih dulu. Setelah itu, baru memasukkan dana dengan nilai yang baru.

BACA JUGA : Tips Investasi SBR Biar Bisa Untung Per Bulan Setara Gaji

Di sisi lain, bank-bank besar seperti, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Central Asia Tbk., dan PT Bank CIMB Niaga Tbk. mensyaratkan jumlah minimal deposito.

Rata-rata nominal minimal deposito di bank besar senilai Rp8 juta.

Jika danamu tidak cukup, kamu bisa beranikan diri dengan menempatkan deposito pada bank kecil. Rata-rata bank kecil menerima dana deposito dengan nilai nominal Rp1 juta.

Namun, kelemahan bank kecil adalah masalah jaringan atau jumlah cabang yang tidak sebesar bank papan atas.

Kumpulkan di Tabungan Rencana Demi Simpan Uang di Bank Besar

Jika kamu berkukuh ingin mendepositokan dana di bank besar, kamu bisa mengawalinya dengan skema tabungan rencana.

Tabungan rencana adalah skema tabungan berkala dengan nilai nominal dan waktu menabung yang sudah ditetapkan. Biasanya, minimal lamanya waktu tabungan rencana adalah 12 bulan.

Kalau, kamu menabung minimal Rp1 juta per bulan, berarti selama setahun sudah menyimpan dana Rp12 juta. Jumlah dana itu sudah bisa disimpan pada bank besar.

Skema Kombinasi Deposito dengan Instrumen Investasi Lebih Berisiko

Melihat karakter deposito, instrumen itu bisa dijadikan bantalan modal jika ingin masuk ke instrumen investasi yang lebih berisiko.

Tujuannya, ketika instrumen investasi berisiko sedang negatif, kamu masih memiliki dana darurat yang bisa digunakan di deposito. Soalnya, dana di deposito ‘nyaris’ tidak mungkin negatif.

Nah, bagaimana mengkombinasikan antara deposito dengan investasi yang lebih berisiko?

Kita bisa anggap instrumen investasi yang lebih berisiko adalah saham. Untuk itu, ada dua skema yang bisa dilakukan untuk mengkombinasikan deposito dengan saham.

Deposito Dulu Baru Saham

Pertama, kamu mulai mengumpulkan uang di deposito hingga Rp50 juta – Rp100 juta. Nilai itu diambil dengan asumsi total pendapatan selama setahun.

Jika, kamu menabung Rp1 juta per bulan, berarti kamu membutuhkan waktu 5 tahun – 8 tahun.

Setelah uang itu terkumpul, kamu boleh mulai melirik instrumen investasi saham. Dana di deposito bisa dibiarkan saja dan jangan pernah digunakan jika tidak ada kebutuhan ‘sangat amat terlalu’ darurat.

Kekurangan skema ini adalah kamu bisa kehilangan momentum besar di pasar modal. Misalnya, saat ini IHSG sekitar 6.000, ternyata lima tahun ke depan sudah menjadi 10.000.

Nabung untuk Deposito dan Saham Secara Bersamaan

Kedua, kamu mempersiapkan tabungan untuk deposito dan menabung saham secara bersamaan.

Jadi, kamu bisa membagi dua jenis investasi setiap bulannya. Misalnya, kamu menetapkan investasi Rp1 juta berarti bisa dibagi 2 menjadi Rp500.000 untuk tabungan rencana dan Rp500.000 untuk nabung saham.

Dengan skema ini, target mencapai simpanan deposito Rp50 juta – Rp100 juta memang bakal lebih lama. Namun, kamu sudah memiliki dana investasi di saham sehingga dalam jangka panjang berpotensi menghasilkan dana cukup besar.

Jika ingin sukses menjalankan investasi skema kombinasi konservatif dan agresif ini, kamu harus konsisten. Selain itu, kamu juga harus menjaga konsumsi jangan sampai berlebihan.