keuntungan sukuk ritel

Keuntungan sukuk ritel adalah produk itu bisa dijual kembali di pasar sekunder. Namun, bagaimana skema keuntungan yang didapatkan dari penjualan sukuk ritel di pasar sekunder?

Sukuk Ritel memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan Sukuk Tabungan atau Saving Bond Ritel (SBR).

Perbedaan yang mencolok dari segi imbal hasil. Sukuk Ritel memiliki imbal hasil yang tetap atau tidak dipengaruhi oleh pergerakan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Adapun, Sukuk Tabungan dan SBR memiliki suku bunga yang mengambang sesuai dengan kebijakan moneter bank sentral tersebut.

Selain itu, Sukuk Ritel memiliki fleksibilitas lebih tinggi karena bisa diperdagangkan di pasar sekunder, sedangkan Sukuk Tabungan dan SBR hanya bisa pencairan lebih awal setelah 1 tahun berjalan.

Jadi lebih menguntungkan skema Sukuk Ritel atau Sukuk Tabungan dan SBR?

Semua itu kembali lagi sesuai dengan kondisi perekonomian Indonesia dan kebijakan bank sentral.

Jika arah kebijakan bank sentral sedang pengetatan moneter alias menaikkan suku bunga, instrumen Sukuk Tabungan dan SBR jelas lebih menarik.

Pasalnya, tingkat imbal hasilnya bakal tergantung pergerakan suku bunga acuan tersebut.

Namun, ketika BI sedang melakukan pelonggaran moneter dan kondisi ekonomi Indonesia baik-baik saja, instrumen seperti, Sukuk Ritel bakal lebih menarik.

Imbal hasil Sukuk Ritel memang tidak dipengaruhi oleh bunga acuan Bank Indonesia, tetapi harga sukuk ritel di pasar sekunder sangat dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral dan kondisi ekonomi Indonesia.

Apa Itu Pasar Sekunder?

Pasar sekunder adalah pasar keuangan yang digunakan untuk memperdagangkan surat berharga yang sudah diterbitkan dalam penawaran umum perdana. Bisa diibaratkan, pasar sekunder adalah perdagangan barang bekas dalam bentuk surat berharga.

Nah, dua obligasi negara ritel yang bisa diperdagangankan di pasar sekunder adalah Sukuk Ritel dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI). Lalu, bagaimana prospek keuntungan menjual Sukuk Ritel dan ORI di pasar sekunder?

Kalau melihat kondisi pasar saat ini, menjual Sukuk Ritel dan ORI di pasar sekunder bukan pilihan yang tepat. Pasalnya, kebijakan suku bunga BI sedang tren naik.

BACA JUGA : Suku Bunga Acuan Bank Indonesia dan Dampaknya ke Kehidupan Kita

Pada tahun ini, kemungkinan BI akan menahan kenaikan suku bunga, tetapi peluang penurunan suku bunga sangat tipis.

Artinya, harga Sukuk Ritel dan ORI di pasar sekunder bakal kurang menarik. Apalagi, ekonomi global juga masih bergejolak yang bakal mempengaruhi kinerja ekonomi Indonesia juga.

Jika melihat pasar obligasi ritel saat ini, rata-rata harga sukuk ritel dan ORI berada di bawah 100%.

Hanya ORI-015 dan Sukuk Ritel SR-008 yang berada di atas 100% masing-masing sebesar 101,91% dan 100,03%.

ORI-015 diterbitkan pada Oktober 2018 dan memiliki tingkat kupon 8,25%, sedangkan SR-008 diterbitkan pada Februari 2016 dengan tingkat kupon 8,3%.

Ini Perhitungan Keuntungan Menjual Sukuk Ritel di Pasar Sekunder

Misalnya, kamu membeli Sukuk Ritel SR-010 yang diterbitkan Februari 2018 senilai Rp10 juta dengan kupon 5,9% per tahun. Tenor sukuk ritel bakal habis pada 10 Maret 2021.

Kamu ingin menjualnya saat ini dengan harga Sukuk Ritel seri SR-010 sebesar 97,3%. Berapa besar keuntungan yang diperoleh saat ini?

Saat ini, kamu sudah menjalani 11 bulan masa pembagian kupon. Keuntungan kotor dari kupon sebesar 5,9% per tahun itu yang sudah diterima adalah senilai Rp540.833.

Namun, kamu dikenakan pajak imbal hasil Sukuk Ritel sebesar 15% sehingga keuntungan bersih sebesar Rp459.708.

keuntungan sukuk ritel
Harga sukuk pada 28 Februari 2019. / Infovesta

Nah, kamu ingin menjual seluruh Sukuk Ritel seri SR-010 saat ini yang seharga 97,3%. Berarti, total uang yang akan kamu terima dari penjualan itu senilai Rp9,73 juta.

Nilai pokok yang kamu terima memang lebih rendah dari awalnya, tetapi jika dijumlahkan dengan keuntungan kupon selama 11 bulan terakhir kamu masih untung Rp189.708.

Total uang yang kamu terima dari kupon 11 bulan dan penjualan Sukuk Ritel SR-010 senilai Rp10,18 juta.

Jika kamu menyimpan SR-010 sampai selesai, total keuntungan yang didapatkan senilai Rp1,5 juta. Jadi, total dana yang didapatkan setelah pajak di SR-010 senilai Rp11,5 juta.

Keuntungan yang diperoleh lebih besar dengan menunggu hingga tenor selesai ketimbang dijual di pasar sekunder. Hal itu disebabkan kebijakan Bank Indonesia dan kondisi perekonomian Indonesia.

Prospek SR-011

Pemerintah meluncurkan sukuk ritel seri SR-011 pada Jumat (11/03/2019). Sukuk ritel seri itu menawarkan kupon 8,05% dengan tenor 3 tahun.

Sebagai instrumen investasi, sukuk ritel cukup menarik jika disimpan sampai tenor habis.

Andaikan, kamu investasi Rp10 juta pada SR-011, berarti total keuntungan bersih setelah pajak senilai Rp57.021 per bulan. Total keuntungan yang didapatkan selama tiga tahun senilai Rp2,05 juta.

BACA JUGA : Tips Investasi Obligasi Negara Ritel Cuma Rp1 Juta, tapi Bisa Meikmati Untungnya

Lalu bagaimana dengan prospek di pasar sekunder?

Nah, itu yang masih penuh tanda tanya. Perlu dilihat dua bulan ke depan.

Kalau kamu tertarik investasi di SR-011, kamu bisa mengunjungi beberapa mitra distribusi. Pemerintah sudah menunjuk 22 mitra yakni, BRI Syariah, BCA, Bank Commonwealth, Bank Danamon, HSBC Indonesia, Bank Mandiri, Maybank Indonesia, Bank Mega, Bank Muamalat, BNI, OCBC NISP, Bank Panin, Bank Permata, BRI, Bank Syariah Mandiri, BTN, CIMB Niaga, Citibank Indonesia, Standard Chartered Bank, Bahana Sekuritas, dan Trimegah Sekuritas.

Masa penawaran dilakukan hingga 21 Maret 2019 pada pukul 10:00 WIB. Nantinya, kupon akan dibayarkan setiap bulannya pada tanggal 10.

Underlying assetnya Sukuk Ritel adalah barang milik negara (BMN) dan proyek APBN 2019.

Kamu bisa berinvestasi di sukuk ritel seri SR-011 mulai dari Rp1 juta sampai Rp3 miliar.

Tertarik berinvestasi membangun negeri?