keuntungan marketplace

Keuntungan marketplace seperti, Tokopedia dan Bukalapak berapa besar ya? dengan status unicorn keduanya sudah mendapatkan banyak pendanaan jumlah besar. Kalau tidak untung besar, bagaimana investor bisa tergiur memberikan pendanaan ke marketplace tersebut.

E-commerce marketplace menjadi salah satu primadona saat ini. Apalagi, dua dari empat startup di Indonesia berasal dari bidang marketplace yakni, Tokopedia dan Bukalapak. Berikut ulasan tentang keuntungan marketplace.

Sejauh ini, keuntungan marketplace seperti, Tokopedia dan Bukalapak mendapatkan pendapatan dari sisi iklan. Jadi, mereka menawarkan iklan kepada para penjual untuk meningkatkan kinerja penjualannya.

Tarif iklan yang diberikan oleh Tokopedia dan Bukalapak sesuai dengan kemampuan dana para penjual. Bisa dibilang cukup terjangkau.

Adapun, dari segi transaksi dan menjadi penjual di kedua marketplace itu masih cuma-cuma.

Keuntungan Marketplace, Layanan Berbayar ala Tokopedia dan Bukalapak

Seperti dikutip dari blog Tokopedia, William Tanuwijaya menjelaskan secara detail dari mana perusahaannya mendapatkan keuntungan.

Selain dari TopAds alias iklan, Tokopedia juga memiliki opsi Gold Merchant. Penjual jenis Gold Merchant [kini namanya Power Merchant] akan menjadi sponsor Tokopedia dengan membayar biaya setiap bulannya.

Nah, dengan menjadi Power Merchant, penjual bisa mendapatkan fasilitas tambahan seperti, statistik tko, pemberian cashback, cover toko, dan lainnya.

Adapun, tarif Power Merchant mulai Rp199.000 per bulan atau Rp549.000 per 3 bulan dan Rp999.000 per 6 bulan.

Selaras dengan Tokopedia, Bukalapak juga memiliki fasilitas premium account untuk pelapak.

Berbeda dengan Tokopedia, Bukalapak membagi layanan Premium Account menjadi tiga kelas.

Pertama kelas Basic senilai Rp75.000 per bulan. Kedua, kelas profesional senilai Rp225.000 per bulan, dan ketiga Platinum senilai Rp500.000 per bulan.

keuntungan marketplace bukalapak
layanan penjual premium ala Bukalapak

Selain itu, Bukalapak juga membuka akun prioritas untuk pembeli. Ada dua paket akun prioritas pembeli yakni silver senilai Rp19.000 per bulan dan Gold senilai Rp49.000 per bulan.

Untuk paket silver, pembeli bisa mendapatkan gratis biaya kirim 3 kali per bulan, cashback 3%, harga khusus Nexmedia, dan prioritas komplain.

Lalu, paket gold akan mendapatkan gratis biaya kirim 10 kali per bulan, akses BukaNonton, gratis kuota Indosat, cashback 3%, Harga khusus Nexmedia, dan prioritas komplain.

Nah, berapa sih jumlah pendapatan para marketplace di Indonesia itu?

Jika melihat laporan keuangan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. pada kuartal III/2018, Bukalapak mencatatkan lonjakan pendapatan sebesar 407,64% menjadi Rp248,74 miliar dibandingkan dengan Rp49 miliar pada periode sama tahun lalu.

Sayangnya, kinerja keuntungan marketplace Bukalapak itu tidak tersedia di laporan keuangan EMTK.

BACA JUGA : Ini Prospek Emiten Startup Pertama yang Melantai di BEI

Saat ini, emiten berkode EMTK itu memiliki 36,86% saham Bukalapak. Persentase kepemilikan itu turun dibandingkan dengan 2017 yang sebesar 49,21%.

Lalu, apakah mereka akan gratis selamanya? dalam situs resminya Tokopedia, William mengaku akan tetap memberikan kesempata kepada setiap individe di Indonesia untuk memulai bisnis dengan mudah dan gratis.

Melihat Monetisasi Marketplace di Dunia

Sementara itu, marketplace di dunia seperti, Amazon, eBay, sampai Alibaba sudah lebih memonetisasi bisnisnya secara komprehensif. Dari situ, potensi pendapatan bisa dibilang cukup besar.

Apalagi, mereka memiliki pangsa pasar di seluruh dunia dan banyak penjual yang sudah ketergantungan dengan layanan para marketplace tersebut.

Amazon memberikan biaya kepada para penjual yang ingin berstatus seller pro senilai US$39,99 per bulan atau sekitar Rp500.000 per bulan.

Perbedaan yang paling mencolok antara penjual gratisan dengan seller pro adalah jumlah barang yang bisa dijajakan. Kalau penjualan gratisan cuma bisa menjual maksimal 40 produk per bulan.

Selain itu, setiap penjual di Amazon akan dibebankan biaya transaksi US$1 per item.

Berbeda dengan Amazon, eBay memberikan biaya kepada para penjual sesuai dengan jumlah dan kategori barang yang dijual. Perhitungan biaya untuk penjual di eBay bisa dbilang cukup sulit.

Adapun, pola Alibaba hampir mirip dengan yang dijalankan Tokopedia dan Bukalapak saat ini.

Alibaba memiliki fasilitas penjual berbayar yang dibagi ke dalam tiga kelas yakni, Basic, Standard, dan Premium. Fasilitas yang didapatkan pun juga hampir mirip, terutama dengan Bukalapak.

Alibaba mengenakan biaya US$116,58 per bulan atau sekitar Rp1,63 juta untuk basic.

Lalu, biaya standard senilai US$249,92 per bulan atau setara Rp3,49 juta per bulan. Biaya premium senilai US$499,92 per bulan atau sekitar Rp6,99 juta.

Bagaimana kinerja keuangan mereka marketplace global tersebut?

Pada 2018, Amazon mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 31% menjadi US$232,9 miliar dibandingkan dengan US$177,9 miliar pada 2017.

Dari segi laba bersih, marketplace asal Negeri Paman Sam itu mencatatkan kenaikan sebesar 236,66% menjadi US$10,1 miliar dibandingkan dengan US$3 miliar pada 2017.

Adapun, eBay mencatatkan kenaikan pendapatan pada 2018 tidak terlalu signifikan sebesar 8,25% menjadi US$10,74 miliar dibandingkan dengan US$9,92 miliar pada 2017.

Lalu, laba bersih eBay 2018 juga cuma naik tipis 6,2% menjadi US$2,3 miliar dibandingkan dengan US$2,16 miliar pada 2017.

Sementara itu, Alibaba, pesaing Amazon, mencatat pendapatan 2018 naik sebesar 40% menjadi US$14,95 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dari segi laba bersih, Alibaba mencatatkan kenaikan sebesar 37% menjadi US$4,8 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Jika Tokopedia dan Bukalapak berkembang layaknya Amazon dan Bukalapak, ketika mereka melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal bisa jadi emiten blue chip ya?

Dengan melihat prospek Tokopedia dan Bukalapak, kamu tertarik enggak beli sahamnya kalau mereka menjadi go public?