inflasi indonesia

Inflasi Indonesia sebesar 0,32% pada Januari 2019 secara bulanan, sedangkan inflasi tahunan sebesar 2,82%. Apa arti angka-angka tersebut?

Inflasi sangat berhubungan dengan kenaikan harga yang disebabkan, konsumsi masyarakat, likuiditas pasar, spekulasi, sampai distribusi barang.

Nah, apakah inflasi berarti punya makna yang buruk? Tentu saja tidak, selama inflasi berada pada tingkat yang wajar justru bagus dan merepresentasikan pertumbuhan ekonomi.

Kecuali, inflasi tiba-tiba melejit menjadi sangat tinggi sehingga masyarakat susah memenuhi kebutuhannya.

Beberapa contoh negara yang inflasinya tiba-tiba melejit antara lain, Venezuela. Inflasi negara Amerika Latin itu melejit hingga 15.000% sampai 18.000% pada 2018.

BACA JUGA : Investasi SBR Bisa Dapat Untung Setara Gaji?

Sayangnya, bank sentral Venezuela tidak menerbitkan data statistik sejak 2015. Namun, ekonom Johns Hopkins University Steve Hanke memperkirakan inflasi Venezuela melonjak sampai 18.000% pada April 2018.

Seperti dikutip dari BBC, inflasi Venezuela melejit karena pemerintah mencetak uang tambahan untuk meningkatkan upah minimum. Harapannya, pemerintah bisa mendapatkan dukungan warga miskin kembali.

Namun, aksi cetak uang dalam jumlah besar tanpa perhitungan matang bisa membuat nilai uang turun. Soalnya, sesuai hukum ekonomi, pasokan uang makin besar, berarti daya tawarnya semakin rendah.

Aksi cetak uang itu juga bisa merusak mekanisme pasar yang ada. Permintaan konsumsi bisa meningkat drastis sehingga pasokan barang berkurang drastis.

Hasilnya, inflasi otomatis langsung melejit. Jadi, negara atau bank sentral harus mengatur pencetakan uang agar inflasi tetap terkendali dan tidak merusak mekanisme pasar.

Update Inflasi Indonesia

Pada Januari 2019, Indonesia mencatatkan inflasi bulanan 0,32%. Persentase itu terendah sejak Januari 2016, sedangkan pada Januari 2015 justru mengalami deflasi 0,24%.

Adapun, pendongkrak inflasi Indonesia pada bulan pertama tahun ini adalah bahan makanan sebesar 0,92%. Jika melihat tren inflasi bahan makanan selama lima tahun terakhir selalu mencatat inflasi di atas 0,5%.

Terbesar, inflasi bahan makanan Januari terjadi pada 2018 sebesar 2,34%. Harga beras menjadi salah satu pemicunya, kala itu sedang banyak ribut-ribut terkait pasokan beras yang menipis.

inflasi indonesia update

Di sisi lain, sektor transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi 0,16% sepanjang Januari 2019. Padahal, transportasi sedang heboh soal harga tiket pesawat yang meningkat drastis.

Apa yang menyebabkan sektor transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru deflasi?

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, deflasi pada sektor transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan didorong oleh penurunan harga bensin Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo.

Namun, harga tiket kereta dan angkutan udara justru menyumbang inflasi 0,02%. Persentase itu mencerminkan kehebohan terkait mahalnya harga tiket pesawat sepanjang awal tahun ini.

BACA JUGA : Gelar Pertama Antonsen di Arena Legendaris

Padahal, tarif angkutan udara sempat menyumbang deflasi pada awal tahun lalu.

Di sisi lain, sektor transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan memang sempat mengalami deflasi yang cukup besar pada periode Januari 2015. Sektor itu mencatat deflasi hingga 4,04% sehingga inflasi bulanan pun turut deflasi 0,24%.

Kala itu, harga minyak dunia memang tengah turun drastis hingga mulai naik pada periode 2017.

Lebih Jahat Inflasi atau Deflasi?

Logika awam melihat deflasi bisa jadi lebih baik ketimbang inflasi karena berarti harga di pasar mengalami penurunan. Namun, tidak semudah itu ferguso.

Deflasi bisa dibilang lebih jahat ketimbang inflasi karena penurunan harga barang di pasar berarti bisa berdampak kepada pertumbuhan ekonomi. Penurunan harga barang bisa disebabkan permintaan pasar yang berkurang.

Jika permintaan pasar berkurang berarti kinerja bisnis juga bisa turun. Ketika kinerja bisnis turun, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) berpotensi meningkat.

Tingkat PHK yang meningkat berarti makin menurunkan daya beli masyarakat. Hal itu seperti lingkaran setan yang tidak ada hentinya bagi pertumbuhan ekonomi.

Untuk itu, inflasi harus dijaga agar tidak terlalu tinggi atau rendah hingga tercebur dalam kolam deflasi.

Jika sampai tercebur dalam kubangan deflasi yang berlarut-larut, membutuhkan waktu cukup lama untuk memulihkan ekonomi kembali.

Salah satu negara yang mengalami deflasi berkepanjangan adalah Jepang, tetapi kenapa ekonomi dan masyarakat Negeri Samurai itu tampak tidak kesulitan?

Kisah Deflasi Jepang

Seperti dikutip dari BBC pada 2010, Jepang mencatatkan penurunan indeks harga konsumen pada Desember 2009 sebesar 1,2%. Persentase itu menjadi yang terbesar sejak indeks harga konsumen dibuat pada 1970.

Di sisi lain, deflasi menyebabkan masyarakat cenderung menyimpan mata uang karena nilainya akan naik. Alhasil, masyarakat menunda pembelian barang-barang karena berspekulasi harga bakal turun.

Pertumbuhan ekonomi Jepang

Akhirnya, permintaan turun sehingga para pengusaha menurunkan harga demi produknya bisa laku terjual.

6 tahun kemudian, Bank of Japan menerapkan kebijakan suku bunga negatif -0,1%. Berarti, deposan, nasabah deposito, bakal dikenakan biaya jika menyimpan uangnya.

Kebijakan ini diharapkan bisa memicu permintaan agar masyarakat tidak menyimpan uangnya terus.

Harapannya, jika masyarakat mulai berbelanja, bisnis bisa bergairah dan berujung pada pertumbuhan ekonomi yang membaik.

Kebijakan suku bunga negatif itu juga berimbas kepada tingkat bunga kredit yang rendah. Nah, kondisi ini juga yang bikin banyak perusahaan atau negara lain melirik pinjaman luar negeri yang memiliki tingkat bunga acuan negatif.

Adapun, kebijakan suku bunga negatif itu masih berlanjut hingga saat ini loh. Soalnya, pertumbuhan ekonomi Jepang juga masih belum menunjukkan kenaikan yang signifikan.