garuda indonesia

Garuda Indonesia menghebohkan pasar setelah dua komisarisnya memiliki beda pendapat terkait laporan keuangan 2018. Transaksi dengan PT Mahata Aero Teknologi menjadi biang kerok penyebab perbedaan pendapat tersebut.

Padahal, emiten berkode GIAA itu mencatatkan kinerja 2018 yang kinclong setelah meraup untung senilai US$5,01 juta dibandingkan rugi US$213,38 juta pada 2017.

Bisa dibilang, keuntungan Garuda Indonesia kali ini menjadi sinyal titik balik kenaikan kinerja setelah hampir dua tahun berturut-turut kinerja merosot drastis.

garuda indonesia

Walaupun begitu, lonjakan keuntungan itu bisa dipandang sinis oleh penumpang pesawat yang merasakan kenaikan harga tiket.

Selain itu, sentimen kurang bagus juga datang dari komisaris setelah berbeda pendapat terkait kinerja keuangan.

Chairal Tanjung dan Dany Oskaria adalah dua komisaris yang keberatan dengan laporan keuangan Garuda Indonesia 2018.

Mereka keberatan terhadap perhitungan transaksi dengan PT Mahata Aero Teknologi. Transaksi apa itu?

Antara Garuda Indonesia dengan Mahata Aero Teknologi

Mengutip dari laporan keuangan Garuda Indonesia, perseroan mencatatkan transaksi dengan PT Mahata Aero Teknologi pada 31 Oktober 2018. Transaksi itu terkait dengan perjanjian kerja sama yang sudah diubah kedua kalinya pada 26 Desember 2018.

Kerja sama itu terkait penyediaan layanan konektivitas dalam penerbangan, hiburan, dan manajemen konten. Perjanjian kerja sama itu berlaku selama 15 tahun dengan pola alokasi slot pada tahun ke-11 sampai ke-15 belum ditentukan.

Pada perjanjian itu, Mahata akan melakukan dan menanggung seluruh biaya penyediaan, pelaksanaan, pamasangan, pengoperasian, perawatan, pembongkaran, dan pemeliharaan jika ada kerusakan.

Mahata dan Garuda sepakat biaya kompensasi atas hak pemasangan peralatan layanan konektivitas untuk 153 pesawat Garuda senilai US$131,94 juta. Lalu, biaya kompenssasi pengelolaan layanan huburan dan manajemen konten untuk 99 pesawat senilai US$80 juta.

Biaya kompensasi itu akan dibayarkan kepada Garuda Indonesia Grup setelah penjanjian kerja sama ditandatangani.

Imbalan dari transaksi ini disebut imbalan tetap atau jaminan yang tidak dapat dikembalikan dalam suatu kontrak yang tidak dapat dibatalkan. Pemegang hak pun diizinkan untuk mengeksploitasi hak itu secara bebas dan pembeli hak tidak memiliki sisa kewajiban untuk dilaksanakan.

Pendapatan atas kompensasi hak pemasangan peralatan layanan konektivitas kompensasi dan kompensasi hak pengelolaan layanan hiburan serta manajemen konten senilai US$211,94 juta diakui ketika penyerahan hak pada 2018.

BACA JUGA : Upaya Terakhir China Perbaiki Citra Belt and Road Initiative

Sementara itu, PT Sriwijaya Air juga setuju ikut serta dalam perjanjian antara Garuda Indonesia dengan Mahata. Sriwijaya akan mendapatkan kompensasi senilai US$30 juta untuk 50 pesawatnya selama 10 tahun ke depan.

Sriwijaya juga disebut setuju hanya menerima kompensasi senilai US$2 juta, sedangkan US$28 juta diserahkan kepada Garuda Indonesia selaku Grup yang menjalani kerja sama dengan Mahata.

Secara keseluruhan, jumlah piutang perseroan dari Mahata sennilai US$233,13 juta.

Apa masalahnya?

Permasalahannya adalah piutang yang berlaku selama 15 tahun itu dimasukkan langsung ke dalam satu buku sepanjang 2018. Banyak pendapat menilai seharusnya dibagi hingga 15 tahun.

Chairal Tanjung berpendapat, transaksi itu harusnya tidak bisa diakui dalam pendapatan satu buku 2018.

Di sisi lain, kinerja Garuda Indonesia terus mencatatkan hasil yang positif. Pada kuartal I/2019, GIAA mencatatkan laba bersih senilai US$19,7 juta dibandingkan dengan sebelumnya rugi US$64,3 juta.

Dari sisi pendapatan juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 11,9% menjadi US$1,09 miliar.

Pergerakan harga saham GIAA juga mencatatkan posisi yang positif sepanjang tahun berjalan ini.

Secara year to date, harga saham GIAA sudah naik sebesar 57,17% menjadi Rp470 per saham pada perdagangan Jumat (26/04/2019).

Pasca kasus laporan keuangan ini, kira-kira kemana arah harga saham GIAA ya?