forum BRI

Forum BRI atau Belt and Road Initiative kedua menjadi upaya China untuk menyakinkan para negara kalau megaproyek itu akan berjalan dengan baik. Namun, sentimen negatif terhadap proyek berinisial BRI itu tetap muncul hingga pertemuan pekan ini.

Beberapa sentimen negatif muncul terkait transparansi pembiayaan dari China yang bertajuk BRI. Pasalnya, China memberikan pembiayaan kepada negara berkembang yang tingkat transparansi keuangannya rendah.

Alhasil, banyak potensi korupsi terjadi yang dilakukan oleh oknum perusahaan pelat merah asal China yang mengerjakan proyek di luar negeri.

Salah satunya, Sinohydro Coporation yang namanya muncul dalam INA Papers, kasus korupsi Presiden Ekuador Lenin Moreno.

Dokumen INA Papers menunjukkan hubungan gelap antara Moreno dengan Sinohydro terkait pembangunan bendungan untuk pembangkit listrik tenaga air Coca Codo Sinclaid di Ekuador.

Forum BRI, Ini Daftar Negara Anggotanya

Salah satu anggota parlemen Ekuador Ronny Aleaga menuduh sang presiden dan Sinohydro telah menyetorkan uang ke perusahaan offshore Recorsa senilai US$18 juta.

Tak hanya itu, Malaysia juga memangkas biaya investasi proyek kereta East Coast dengan China hingga 10,7 miliar ringgit menjadi 44 miliar ringgit.

BACA JUGA : Ini Cuan Pasar Saham Pasca Pemilu 2019

Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad menghentikan proyek kereta itu karena Negeri Jiran tengah berjuang memangkas defisit anggarannya.

Belt and Road Initiative (BRI) adalah strategi pembangunan Xi Jinping yang fokus menciptakan konektivitas dan kerja sama antara negara-negara Eurasia. Jalur Eurasia adalah jalur dari China melewati Sabuk Ekonomi Jalur Sutra berbasis daratan dan jalur sutra maritim lintas samudra.


Strategi itu menegaskan tekad China untuk ambil peran lebih besar dalam jaringan perdagangan global.


Inisiatif ini mulai diluncurkan sejak 2013. Nama awalnya adalah One Belt and One Road (OBOR), tetapi diganti menjadi Belt and Road Initiative (BRI) demi menghapus citra kesatuan. Citra itu menjadi sentimen negatif seolah China ingin membuat satu kesatuan dengan negara anggota BRI.

Cerita awal Belt and Road Initiative

Untuk itu, China pun berupaya menyakinkan negara-negara yang masuk proyek BRI dengan cara melakukan pengawasan lebih ketat.

Negeri Tirai Bambu itu juga akan menekan publisitas agar tidak terkesan agresif. Pembatasan penggunaan brand BRI untuk proyek di luar negeri, sampai membangun audit luar negeri dan sistem anti-korupsi.

China Mulai Frustasi

China dinilai sudah mulai frustasi terkait munculnya sentimen negatif dan krtitikan terkait megaproyeknya tersebut.

Dekan Hubungan Internasional Universitas Nanjing Zhu Feng mengatakan, pemerintah China memiliki rasa frustasi yang besar karena kritik kepada BRI tidak hanya muncul dari negara maju, tetapi juga negara berkembang.

“Namun, tekanan internasional itu membuat China terpaksa memikirkan langkah yang lebih baik ke depannya,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg.

Pada pertemuan forum BRI kedua, China sudah mempersiapkan berbagai rencana dari citra perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) sampai kekhawatiran ancaman kekuatan China dengan megaproyek tersebut.

Salah satu pihak berwenang yang enggan disebutkan namanya mencatat, pemerintah China sudah membersihkan istilah-istilah di media pemerintah yang terkesan mengancam ekonomi global. Beberapa diantaranya seperti, Made in China 2025 sampai program seribu talenta.

Program seribu talenta adalah mengajak talenta berbakat China yang berada di luar negeri untuk pulang kampung.

Direktur Pusat China-AS Suisheng Zhao mengatakan, sejak perang dagang meletus, China harus menghadapi tekanan dari domestik dan internasional. Kemunduran negosiasi di beberapa anegara membuat China memikirkan kembali terkait citranya di dunia internasional.

“Namun, saya berpikir arah kebijakan China tidak akan ada perbedaan secara fundamental. Mereka hanya sekedar mengubah citranya saja,” ujarnya.

Menanti Negara Maju

Megaproyek BRI sangat diharapkan menarik minat negara-negara maju, terutama dari Eropa. Namun, China terhambat oleh standar tinggi dari Negara di Benua Biru tersebut.

Harapan China masuk ke Eropa pun terbuka lebar ketika Italia memutuskan untuk berpartisipasi dalam BRI. Sayangnya, lampu hijau dari Negeri Pizza itu tidak membuka peluang kemudahan negosiasi dengan negara Eropa lainnya.

Seseorang yang akrab terkait BRI dan Uni Eropa mengatakan, hambatan besar China adalah terkait peraturan dan standar.

“Salah satunya permintaan agar standar pembiayaan yang diberikan memenuhi syarat IMF dan Uni Eropa,” ujarnya tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Beberapa petinggi negara Eropa pun sudah memberikan sinyal tidak akan langsung tergiur bekerja sama dengan China ketika forum BRI kedua berlangsung.

Kanselir Austria Sebastian Kurz mengatakan, dia bakal mengikuti forum, tetapi tidak akan menandatangani perjanjian formal seperti Italia.

Pemerintah Swiss membuka peluang tanda tangan perjanjian untuk membantu likuiditas bank dan perusahaan asuransi di sana untuk membiayai proyek di negara Asia Tengah.

Menteri Perdagangan AS Liam Fox memastikan Inggris Raya hanya akan menandatangani pakta dengan China yang sesuai dengan etika Negeri Ratu Elizabeth tersebut.

Beberapa pengamat mengatakan, perubahan yang diusulkan China mungkin tidak akan menjadi solusi. Untuk benar-benar membersihkan citra BRI, China harus menghentikan pryek yang telah menghasilkan masalah signifikan.

China juga diminta tidak menekan negara-negara debiturnya yang memiliki kondisi keuangan buruk akibat pinjaman yang telah diberikan.

Partner Senior Program Keamanan Asia Pasifik di Pusat Keamanan New America Daniel Kliman mengatakan, jika China mengurangi proyek hingga 50% bisa membuat kualitasnya di mata internasional menjadi lebih baik.

“Untuk perubahan yang sudah dilakukan China saat ini ibarat sekedar kosmetik yang tidak mengubah apapun,” ujarnya.

Usaha China Mengubah Citra BRI

Presiden China Xi Jinping sudah berusaha menciptakan kesan BRI yang bersih sejak pertemuan pertama pada 2017. Dia membuat kampanye melawan korupsi yang dipimpin oleh Wakil Ketua Partainya Li Shulei.

Li adalah mantan akademisi di Universitas Peking. Dia sudah bekerja sama dengan Xi Jinping sejak 2008.

Selain itu, China juga membuat beberapa aturan baru seperti regulasi investasi di luar negeri dan operasi BUMN China. Saat ini, perusahaan pelat merah CHina mendominasi pengerjaan proyek BRI.

Menurut data State-owned Assets Supervision and Administration Commission (SASAC), BUMN China sudah berinvestasi pada 3.116 proyek.

Mantan Presiden World Bank Robert Zoellick mengatakan, Cendikiawan China adalah orang yang sangat pintar dan mereka tahu masalah pemberian pinjaman ini akan meledak pada waktu yang tidak diduga.

“Jadi lebih baik mulai bersikap transparan,” ujarnya.

China memang telah meningkatkan audit proyek luar negeri dan investasi yang dilakukan BUMN China.

Bahkan, regulator terkait juga mewajibkan perusahaan pelat merah melakukan uji tuntas sejak awal. Tujuannya, agar BUMN China itu tidak mengambil proyek yang memiliki risiko sangat tinggi.

Sayangnya, China hanya memperketat pengawasan kepada perusahaan pelat merah, tetapi perusahaan swasta tetap tanpa pengawasan.

Investasi Melambat

Investasi langsung luar negeri nonkeuangan China di negara BRI hanya tumbuh 4,2% pada kuartal I/2019. Pertumbuhan itu menjadi yang terendah sejak BRI di mulai.

Persentase pertumbuhan itu di bawah angka periode sama pada tahun lalu yang sebesar 22,4%.

Sejak 2013 – 2018, perusahaan China sudah berinvestasi lebih dari US$90 miliar di negara-negara BRI. Lalu, negara BRI juga sudah berinvestasi senilai US$40 miliar pada periode yang sama.

Lalu, total perdagangan antara negara China dengan negara BRI sudah mencapai US$6 triliun dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 4%. Nilai perdagangan negara BRI setara dengan 27,4% dari total perdagangan China sepanjang periode tersebut.