flapper

Konon, istilah flapper diciptakan oleh F. Scott Fitzgerald. Dia menulis tentang budaya kelompok perempuan pecinta pesta dalam cerita pendeknya di Saturday Evening Post pada 1920.

Cerita pendek itu diberikan judul Flappers and Philosophers, dan istilah flapper pun terus dikenang sampai saat ini.

Pada cerita itu, dia menggambarkan gaya hidup seorang perempuan yang hobi mendengarkan lagi jazz dan memiliki gaya hidup menengah ke atas.

Adapun, flapper adalah bagian dari periode roaring twenties yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Roaring twenties adalah perubahan sosial budaya di Negeri Paman Sam.

Sejarah flapper dimulai ketika perang dunia I dimulai. Saat itu, angkatan kerja produktif perempuan sangat tinggi dan memiliki pendapatan yang besar.

Para perempuan bekerja demi menghidupi keluarganya. Pasalnya, para pria yang berperan sebagai kepala keluarga bertugas ke medan perang. 

Ketika perang telah berakhir, para perempuan tidak langsung melepas pekerjaannya. Mereka tetap melanjutkan karir dan memiliki pendapatan tetap.

Hal itu juga yang mendorong pertumbuhan ekonomi AS pasca perang pada 1920-an. Perempuan karir itu menikmati  hidup dengan tingkat konsumsi yang tinggi dan hedonisme

Ciri-ciri Flapper

Gaya hidup para perempuan semakin bebas. Mereka sangat menikmati berpesta sambil minum alkohol, merokok, dan seks bebas.

Pasca amandemen ke-18 berakhir, Penjualan alkohol secara bebas di AS.

Selain itu, produksi minuman alkohol kian meningkat karena tren mendengarkan lagu jazz sambil menikmati minuman keras tersebut.

Persoalan seks bebas menjadi gaya hidup seiring dengan perkembangan alat kontrasepsi untuk perempuan.

BACA JUGA : Makan Yakiniku Murah? Ini Pilihannya

Hal itu memberikan kebebasan kepada perempuan untuk mengontrol angka kelahiran.

Kebebasan perempuan tidak hanya menyangkut gaya hidup saja.

Pada Agustus 1920, perempuan mendapatkan kebebasan hak politik setelah berlakunya amandemen ke-19. Para perempuan kini punya hak suara untuk memilih pemimpin.

BACA JUGA : Euforia Ekonomi Jelang The Great Depression

Flapper memiliki ciri-ciri yang sangat khas yakni, perempuan dengan gaun yang panjangnya di atas betis.

Sosok perempuan langsing dan bersiluet dianggap sosok yang sempurna.

Ciri-ciri lainnya, Mereka selalu mengenakan sepatu hak tinggi. Para perempuan itu juga mengganti peran korset dengan bra.

Kemudian, dandanannya cenderung heboh dengan menggunakan lipstik, maskara, dan kosmetik lainnya.

Dari sisi rambut, mereka sangat menyukai rambut pendek seperti, bob.

Flapper dan Kritik Masyarakat AS

Gaya hidup perempuan berambut bob dan tukang pesta itu mendapatkan kritik dari masyarakat. Ternyata, kebebasan bukan berarti hal yang indah bagi semua kalangan.

Flapper yang semakin booming menuai kritikan tajam dari publik. Dari permasalahan baju yang terlalu terbuka sampai sikap yang tidak sopan menjadi topik kritikan masyarakat.

Di beberapa tempat seperti Utah sampai Washington D.C mengecam gaya baju perempuan yang terbuka.

Bikini pantai dinilai tidak pantas digunakan perempuan di tempat terbuka.

Pendeta Rabbi Stephen S. Wise dan John Roach Straton pun terkenal sebagai tukang ‘ngomelin’ perempuan muda.

Flapper juga mendapatkan kritik dari aktivis perempuan seperti, Charlotte Perkins Gilman dan Lilian Symes. Mereka merasa golongan pecinta pesta itu bersikap tidak sopan.

Di tengah hujan kritik, era para Flapper pun berakhir pada 29 Oktober 1929. Kala itu, pasar saham AS tiba-tiba anjlok setelah mengalami periode Black Tuesday.

Gerbang awal The Great Depression itu membuat para flapper tidak bisa memenuhi kebutuhan gaya hidup yang mahal sekali. Akhirnya, gaya hidup mereka perlahan meredup.