dharma samudera

Dharma Samudera Fishing resmi memiliki pemegang saham mayoritas baru setelah transaksinya rampung pada 15 April 2019 kemarin. PT Marina Berkah Investama rampung mengakuisisi 35% saham emiten berkode DSFI senilai Rp32,63 miliar.

Nama Marina Berkah Investama muncul pada 15 April 2019 setelah resmi ambil alih 35% saham DFSI milik Winapex dan PT Baruna Inti Lestari. Marina Berkah Investama membeli 35% saham DSFI dengan harga Rp49 per saham.

Harga beli itu di bawah harga pasar perseroan pada 15 April 2019. Saat itu, posisi harga saham DSFI berada di level Rp123 per saham.

Dengan transaksi itu, Marina Berkah Investama resmi menjadi pemegang saham pengendali DSFI.

Marina Berkah Investama mengklaim akuisisi DSFI dilakukan untuk mengembangkan bisnis perikanan itu lebih kuat di skala regional. Dengan ambil alih itu, peluang mendongkrak investasi sangat besar.

BACA JUGA : Garuda Indonesia, Ada Apa dengan Laporan Keuanganmu?

Selain transaksi itu, Marina Berkah Investama juga telah menandatangani perjanjian pengikatan jual beli saham pada 15 April 2019. Tanda tangan itu terkait pengambilalihan 29,64% saham DSFI milik K Energy.

Artinya, Marina Berkah berencana untuk mengambil alih keseluruhan saham nonpublik DSFI.

Sayangnya, channelekonomi tidak menemukan profil Marina Berkah Investama di jagat maya sekecil apapun.

Sebelumnya, Pada 2015, Dharma Samudra Fishing memiliki komposisi pemegang saham yang terdiri dari K Energy Ltd. sebesar 29,64%, Winapex 26,17%, PT Dharma Mulia Andhika 18,22%, Irwan Sutjiamidjaja sebesar 0,09%, dan publik 25,88%.

Komposisi pemeganga saham itu tidak berubah sampai laporan tahunan 2018.

Dharma Samudera Sempat Terlilit Utang

DSFI kesulitan melakukan ekspansi karena terlilit restrukturisasi utang sejak 29 Oktober 2010. Emiten sektor perikanan itu memiliki utang tidak lancar senilai Rp1,95 miliar dan US$34.800 kepada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Utang yang tidak lancar itu direstrukturisasi dengan cara penjadwalan ulang cicilan selama 60 bulan. Namun, rencana ekspansi pada 2015 juga terhambat karena perseroan belum memenuhi syarat bank.

Beberapa syarat bank itu antara lain, kemampuan perseroan membayar utang pada 2015 masih sebesar 1,49 : 1,0. Padahal, syarat dari bank sebesar 1,10 : 1,0.

Lalu, perbandingan total utang dengan ekuitas 2015 masih sebesar 1,1 kali, sedangkan bank memberikan syarat 2,1 kali.

Nah, pada 2016, kinerja Dharma Samudera Fishing terus membaik. Dalam laporan tahunan 2016, perseroan menyeutkan program restrukturisasi dari BNI adalah modal penting untuk melanjutkan lini usahanya yang terkait dengan produk hasil laut.

Pada 2016, DSFI pun langsung tancap gas dengan melakukan ekspansi ke lini usaha makanan olahan. Beberapa produk makanan olahan anyarnya antara lain, Bakso Ikan, Kaki Naga, Otak-otak, dan nugget diharapkan menggenjot penjualan di pasar domestik.

Sekretaris Perusahaan DSFI Saut Marbun mengatakan, perseroan mengembangkan lini usaha hilirisasi itu untuk menggenjot pasar lokal yang besar dan efisiensi usaha.

Efisiensi yang dimaksud adalah penggunaan bahan baku makanan olahan yang berasal dari potongan-potongan kecil sisa filet.

Pada awal 2017, perseroan pun berencana melebarkan ekspansi dengan membuat outlet yang menjual produk olahan. DSFI juga berencana membuatkan menu siap saji seperti, nasi goreng bakso ikan, bakso ikan goreng, dan lain-lain.

Perseroan pun memiliki satu restoran di kawasan Puncak Pass, Bogor, Jawa Barat. Produk olahan itu juga dijajakan di sana sebagai menu makanan dan oleh-oleh.